Manusia terdiri dari jiwa dan raga, oleh karena itu menjaga raga
merupakan suatu keharusan. Dengan raga yang bugar, kita dapat melakukan
aktivitas yang melibatkan kegiatan secara fisik dan mental (spiritual).
Diriwayatkan bahwa Nabi mengatakan: “Orang yang kuat lebih disukai oleh
Allah dari pada orang yang lemah”. Hadits ini menekankan bahwa seorang
muslim harus menjaga kesehatan.
Sebagai seorang yang beriman kita fahami bahwa sehat atau sakit
sejatinya adalah datang dari Allah, dan syari’at sebagai jalan atau cara
timbulnya sehat atau sakit. Jika kita kaitkan dengan sehat-sakit (sebagai
hakekat) yang datang dari Allah Swt dan usaha atau ikhtiar (sebagai
syare’at) yang dijalani manusia, maka akan dapat terumuskan sebagai
berikut:
Ikhtiar: Menjaga = Sehat
Ikhtiar: Mengumbar kesehatan = Sakit
Dari rumusan di atas dijelaskan bahwa melalui ikhtiar menjaga
kesehatan seperti menjaga pola makan dengan menu yang seimbang, makan
dan minum yang bergizi, menghindari segala sesuatu yang dapat merugikan
atau merusak kesehatan tubuh dan menjaga kebersihan akan menghasilkan
sehat, yang pada hakekatnya sehat itu datang dari Allah Swt. Dan
sebaliknya apabila tidak menjaga kesehatan dengan berperilaku
kebalikannya, maka yang didapat adalah sakit. Dan pada hakekatnya sakit
juga datang dari Allah Swt.
Kita semua percaya bahwa sehat itu datang dari Allah, sebagaimana
konsep sederhana yang telah dipaparkan di atas, maka sudah kewajiban
mukmin untuk menjaga tiap-tiap anugrah yang telah dilimpahkan-Nya
termasuk juga kesehatan. Menjaga kesahatan artinya tidak merusaknya,
menjaganya dari semua yang dapat merusak baik secara perlahan atau
cepat. Tidak mengkonsumsi makanan yang tidak baik bagi tubuh alias
makanan yang diharamkan syara’ juga merupakan usaha menjaga kesehatan.
Karena pada intinya makanan tersebut diharamkan adalah karena
membahayakan bagi kesehatan.

Termasuk dari perbuatan merusak kesehatan diri adalah dengan tidak
menjaganya dan mengkonsumsi makanan/minuman yang tidak baik dan
berakibat buruk hingga kematian. Artinya segala sesuatu yang jika
dikonsumsi secara terus menerus baik secara perlahan atau sekaligus
menyebabkan rusaknya tubuh adalah termasuk ke dalam makanan/minuman yang
tidak baik untuk dikonsumsi. Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi..! “ (QS 2:168)
Jelas Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengkonsumsi yang
halal dan yang baik-baik saja. Dan tidak memerintahkan untu berbuat
kerusakan atas setiap anugrah yang allah berikan.
Allah berfirman:
Janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi..
Iman
meliputi tiga perkara yaitu iman bil Lisan, bil Qolbi, dan bil Arkan.
Artinya keimanan tidak cukup hanya dibuktikan dengan lisan atau ucapan
saja, dibutuhkan tekad atau pengakuan hati terhadap kebenaran Allah yang
Esa, dan wujud tindakan dalam pembuktian keimanan itu. Perbuatan kita
baik itu mematuhi perintahnya atau melanggar larangannya menjadi cermin
bagi keimanan kita masing-masing. Wujud dari iman bil arkan dalam hal
ini adalah tentu saja menjaga kesehatan.
Kepada para pembaca
sekalian, seperti kita semua tahu, bahwa keimanan seseorang tidak bisa
diukur hanya dari satu perbuatan saja. Kita tidak bisa katakan muslim
yang menghina muslim lainnya sebagai orang yang tak beriman atau imannya
tipis. Atau kepada dua orang yang gemar bermain catur sementara adzan
berkumandang lalu mereka mengabaikan suara adzan tersebut dan meneruskan
permainannya, tentu kita tidak bisa mengatakan iman mereka hanya
setebal kulit bawang. Bahkan terhadap orang yang berbuat zina sekali pun
Rasul tidak menyebut dia sebagai seorang yang murtad, tetapi termasuk
kepada perbuatan dosa besar, meskipun ketika melakukan perbuatan
tersebut imannya terlepas sementara. Dan tidak bisa juga dipastikan
seorang yang gemar sodaqoh memiliki keimanan yang kuat. Siapa tahu
sodaqoh yang mereka lakukan bukan dikarenakan iman, tetapi justru
karena ria dan penyakit hati lainnya.
Jadi keimanan seseorang tidak
bisa kita ukur begitu saja. Hanya Allah azza wa jalla yang maha tahu
siapa diantara hambanya yang paling beriman. Sebagai hambanya kita hanya
melihat hal itu melalui ciri-ciri, tetapi ciri-ciri tersebut bukan
untuk kita jadikan senjata untuk menghukumi beriman-tidak atau
kuat-lemahnya iman saudara se-agama kita.
Wallahu A'lam
Dikutip dari : http://semangat-share.blogspot.com